LAND CAPTURE

Simply take camera, shoot and feel amazing….that’s it.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

PNS Profesional, BPN RI Profesional.

Bekerja profesional saat ini,  tidak saja berarti pekerjaan yang dimiliki oleh orang yang sangat terlatih  (fully trained,skilled or educated), dengan harapan bahwa seseorang itu akan menghasilkan produk yang high standard. Terlatih untuk menghasilklan sesuatu produk yang berkualitas tidak  juga berarti berhenti dengan  selesainya suatu produk. Namun jauh dari hal tersebut, produk itu harus dapat dirasakan dan dinikmati oleh orang diluar dirinya (owner) dan termasuk juga bagi dirinya dan mendapat pengakuan atau apresiasi  dari orang lain secara jujur, bahwa user merasakan tingkat kepuasan yang diharapkan. Dan itu belum selesai, apabila produk tersebut mengalami kegagalan, kerusakan, ketidakpuasan dan ketidak cocokan, maka sang pembuat produk, pelayan produk baik secara individu maupun lembaga harus juga bersedia dengan senang hati dan terbuka melayani pengaduan atau komplain dari user serta mengembalikannya pada standar awal seperti yang dijanjikan. Dengan demikian maka lahirlah profesionalism dari pembuat produk dan para pekerja atau pegawai yang profesional. Bila perlu, komplain tersebut dijadikan dasar untuk meningkatkan quality dari produknya sehingga tercipta new quality. Pembuat produk harus tahu betul apa yang diinginkan oleh pengguna, apa manfaatnya dan apa nilai lebihnya.

Oleh karena itu, profesionalisme saat ini semakin berkembang. Profesionalisme  pada dasarnya memiliki 3 pilar yaitu seseorang itu tahu apa yang diinginkan oleh pengguna, dan dia mau menciptakan atau melakukannya serta mau mempertanggungjawabkannya. Pilar “Tahu”; “Mau” dan “Bertanggungjawab” adalah mutlak menjadi satu kesatuan atau Three in One.  Jika seorang pegawai/karyawan atau suatu lembaga, “tahu” akan kebutuhan masyarakat tetapi tidak mau melakukan sesuatu untuk itu, maka dia tidak profesional. Atau dia tidak melakukan apapun. Oleh karena itu perlu diciptakan oleh atasan atau pimpinan suatu pelatihan motivasi agar sesorang mau melakukan sesuatu. Kemudian, pada saat seseorang “tahu” apa kebutuhan masyarakat dan “mau” melakukannya, ini adalah pertanda baik. Profesionalisme mulai kelihatan. Namun ketika dia tahu dan mau melakukan sesuatu, namun tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya, ini pertanda buruk. Maka seseorang itu tidak profesional. Pada saat seseorang itu tahu dan mau melakukan sesuatu, dan bertanggung jawab, maka profesional lah dia. Jadi ketiga pilar ini harus lengkap untuk menyatakan seseorang profesional. Lain hal nya jika pada saat seseorang mau melakukan untuk masyarakat dan bertanggung jawab, namun dia tidak tahu caranya, maka perlu pelatihan atau training, supaya menjadi orang profesional.

Jika kita melihat produk-produk berkelas melakukan yang dibutuhkan oleh masyarakat, biasanya  pertanggungjawaban pasca produk sering dicantumkan di kartu jaminan dan brosur produknya yang disebut juga yaitu “afters sales service” (Layanan purna jual), ini menjadi ciri khas perusahaanatau lembaga profesional. Ada jaminan atau garansi terhadap apa yang dijanjikan oleh lembaga tersebut. Semakin lama masa garansinya, semakin berkualitas produknya. Dengan demikian semakin tinggi kelasnya, semakin mahal harganya.

Hal tersebut berlaku dimana saja, termasuk bagi PNS, bagi karyawan BPN RI dalam menghasilkan produk-produk yang berkaitan dengan tanah. Sebagai contoh adalah program sertipikasi dimana ada proses  yang disebut dengan pra sertipikasi, sertipikasi dan pasca sertipikasi. Tiga tahapan  utama dalam legalisasi asset masyarakat. Ketiga tahapan ini mengadopsi manajemen yang berkualitas dan bertanggungjawab. Jika dilihat dari kacamata profesional, maka kita dapat mengurai apa profesionalisme yang ada pada BPN RI saat ini.

  1. Pra sertipikasi dapat dikatakan sebagai awal dari planning kegiatan pertanahan, yang akan bersinergi dengan berbagai komponen; Di sini BPN mencari dan melihat apa keinginan masyarakat. Dapat juga dikatakan BPN “tahu” apa keinginan masyarakat.
  2. Sertipikasi mungkin disebut sebagai kegiatan teknis untuk “menjahit” atau melakukan aktivitas produk. Disini,  BPN “mau” memenuhi keinginan masyarakat dan kebutuhan masyarakat saat ini dan masa depan.
  3. Pasca sertipikasi sebagai “pertanggungjawaban” atau garansi dan layanan purna jual untuk pengguna, dengan jaminan produk berupa “full lifetime guarantee” . Jaminan ini adalah jaminan yang sangat kuat dan dilindungi oleh undang-undang. Masyarakat tidak perlu khawatir akan produk tersebut, sepanjang pemohon benar dan betul-betul memiliki dan memberi segala dokumen dan keterangan yang lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan bahwa sebidang tanah ituadalah miliknya.  Konsekuensinya adalah apabila salah satu dari pihak pemberi layanan (BPN) atau pemohon (masyarakat) melakukan kekeliruan administratif atau pemalsuan, maka harus dipertanggungjawabkan secara hukum pula.

Dalam konteks ke tiga hal tersebut di atas, BPN RI dalam melakukan tugasnya dimana salah satunya adalah sertipikasi atau sekarang lebih sering disebut legalisasi aset, sudah mulai melakukannya dengan profesional sejak 2006.  ( Era kepemimpinan Joyo Winoto PhD).  Kegiatan dari awal dengan berbagai standar dan prosedur yang terus menerus diperbaiki,  pembuatan produk yang diolah di unit teknis sampai pada pasca sertipikasi sebagai layanan purna jual pun sudah dilaksanakan. BPN sudah profesioanl sebagai lembaga. Sebagai PNS pun demikian, BPN sudah berani bertanggungjawab bahwa pasca sertipikasi adalah hal yang sangat penting dalam rangka peningkatan kepuasan rakyat menuju kesejahteraan rakyat.

PNS profesional, BPN Profesional adalah eranya saat ini. Tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan BPN Profesional. Intinya adalah tiga pilar utama harus berdiri kokoh di dalam lembaga BPN dan didalam jiwa sanubari pegawai BPN RI. Selamat bekerja dan profesional.

makmur@bpn.go.id

Kebayoran 28 Juni 2010.

TIPS UNTUK MUDIK & TIKET

TIPS UNTUK MUDIK & TIKET

Mudik Lebaran menjadi tradisi yang sudah cukup lama di negeri ini. Mudik dalam rangka merayakan hari-hari besar agama adalah moment yang paling ditunggu-tunggu. Bersilahturahmi dengan sanak keluarga, melepas rasa rindu dan saling bermaaf-maafan menandakan betapa budaya saling memaafkan itu sangat begitu hidup di hati sanubari bangsa ini.

Berbagai rencana sudah di atur, perjalanan, cuti, kendaraan, dan tidak lupa ongkos sudah ditabung tiap bulan dari pendapatan. Menyisihkan 10-15 persen untuk kegiatan itu membuat beban lebih terasa ringan dalam menikmati mudik. Kadangkala sulitnya mencari kendaraan atau transportasi yang diinginkan menjadi kendala.

Bagi yang menggunakan transportasi darat, hendaknya mempersiapkan sebaik mungkin kondisi kendaraannya.Lalu bagi yang menggunakan transportasi laut, juga sudah harus mem-book tiketnya jauh hari sebelumnya. Apalagi jika menggunakan transportasi udara. Pasti sudah harus mem-book sebelumnya.

Salah satu solusi yang ada dalam booking-membooking tiket dengan harga murah dan mudah dalam prosesnya adalah dengan menjadi anggota dari bisnis ini :

http://bisnis-tiket-pesawat.com/?id=makmur

Ada beberapa hal yang menjadi keuntungan anda dalam memilih menjadi anggota bisnis ini :

  1. Anda menjadi agent travel bagi diri anda sendiri. (Saya sudah membuktikannya);
  2. Memperoleh harga tiket lebih mudah, murah, cepat dan efisien;
  3. Pembayaran dapat melalui SMS Banking, Internet Banking maupun ATM; (Cukup mudah bukan?), tidak memakai kartu kredit.
  4. Anda dapat menjual tiket ini kepada Saudara, teman, tetangga, teman kantor dan siapa saja dengan waktu yang sangat fleksibel.
  5. Layanan tersedia untuk waktu panjang (24 jam).
  6. Tidak perlu jauh-jauh ke Bandara untuk penerbangan segera dan mendadak (Go show).
  7. Menjadi member selamanya dan tidak mahal biaya registrasi.
  8. Menjadi aktivitas baru untuk memulai berbinis.

Dalam menjalani mudik persiapkanlah diri anda dengan baik, beberapa tips yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

  • Jaga kondisi kesehatan anda dan keluarga, itu yang paling utama, agar perjalanan anda menyenangkan dalam kondisi fit dan segar.
  • Segala perbekalan yang penting jangan sampai terlupa, terutama bagi yang membawa anak-anak dan bayi.
  • Jangan lupa menitip rumah kepada yang dipercaya, apakah tetangga, petugas keamanan atau saudara jika ada.
  • Berbagai pembayaran juga jangan lupa untuk dibayar seperti tagihan listrik, telepon, air dan tagihan lainnya.
  • Rumah harus di monitor dari jarak jauh dengan menanya kabar kepada tetangga apabila ada yang tidak mudik. Biasanya RT/RW akan mendata warga yang mudik dan akan dilakukan siskamling.

Kebayoran Baru, 8 September 2009

My First Online Experience

Berawal dari tahun 1997,  saya dan 6 orang teman memperoleh tugas belajar di salah satu Universitas terkemuka di Sydney,Australia. Tepatnya pada minggu kedua Pebruari kami sudah menapaki kaki di rerumputan kampus yang tertata sangat rapi dan bersih. Orientasi minggu pertama atau yang lebih dikenal dengan”O” Week wajib diikuti, kalau tidak kita akan buta informasi. Kesan pertama  yang tidak terlupakan adalah “everything is well prepared”. Setiap orang yang terlibat, mulai dari pengajar maupun mahasiswa sangat informatif dan sangat ramah memperkenalkan apa saja yang ada di kampus dan dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan.

Sepanjang periode “O week”  terasa sangat singkat. Semua informasi sudah didapat, semua akses sudah dipegang dalam 1 kartu. Mulai dari akses ke Kampus, ke Library baik lokal maupun antar negara, ke Bank, dan ke mana saja. Menakjubkan sekali, dan bagi kami semuanya adalah hal yang sangat baru pada masa itu. Kami terbengong-bengong melihat semuanya ada di tangan untuk menginginkan apa yang diingini. Tahun 1997 adalah awal dari semua mekanisme online begitu memukau pikiranku dan sebelumnya tak terbayangkan dan membuat dunia ini serasa tidak ada jarak. Berbagai informasi sangat mudah didapat walau masih membutuhkan waktu yang agak lambat, namun sungguh merupakan lompatan yang besar pada waktu itu. Berita “Tragedi Mei 1997” dapat kami saksikan melalui berbagai media TV maupun internet. Sangat cepat meluas informasinya dan kami beruntung tidak mengalami langsung peristiwa itu, tapi informasinya sangat lengkap.

Pengguna email, mobile phone dan laptop pada waktu itu masih sangat terbatas. Berdiri di suatu tempat serasa berada di dunia lain. Pada saat itu lompatan teknologi rasanya cukup jauh ke depan. Dua belas tahun lalu, hanya beberapa media nasional yang sudah online. Chatting adalah salah satu aktifitas yang paling digandrungi melalui fasilitas media online ataupun semacam IRC. Online membuat hidup ada dimana-mana. Selain chatting, saling bersurat lewat e-mail menjadi sangat populer. Penyerahan assignment ke dosen dipermudah melalui email, bahkan nilai juga disampaikan lewat email. Surat-menyurat elektronik perbankan di Indonesia pada saat itu masih “dikuasai” dan “dimonopoli” oleh para programmer IT. Belum semua dapat mempunyai akses yang sama untuk ber”email”ria. Mahalnya biaya telepon membuat saya aktif untuk mengajak Calon Isteri saya pada waktu itu untuk ber “email” saja. Tutorial singkat belum dapat membuatnya tertarik, akhirnya saya putuskan untuk meng”create” satu account dan memberikan “password” untuknya.

Harapan terbesar saya pada waktu itu adalah komunikasi ini akan lancar sekali, karena calon isteri ada di Bank, dan saya ada di kampus, yang mempunyai “free access” untuk online internet. Sangat yakin akan berbagai petunjuk ringkas dan mudah untuk di laksanakan ternyata jauh dari harapan. Dominasi “programmer” yang sedikit arogan ternyata melampaui batas-batas etika berkomunikasi. Surat pribadi yang seharusnya hanya dibaca oleh Calon Isteri, tersebar di antara para programmer dan teman sejawatnya. Kecewa yang mendalam saya alami, terutama buat Calon Isteri menjadi merasa ditelanjangi. Pengalaman pertama terburuk di awal-awal indahnya menggunakan media online.

Akhir 1998, kembali ke kampung halaman, Jakarta siap menunggu. Fasilitas online hilang seketika. Sangat sulit untuk mencari warnet. Namun tidak lama berselang, di tahun 2000, jaringan sudah masuk ke meja saya. Dari 23.000 an karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia, pada awalnya hanya 30 yang mempunyai account. Sekarang, mungkin sudah 30 persen mempunyai email account. Teknologi online ada dimana-mana, tidak ada kesulitan menggunakannya, semuanya sudah ada di atas tangan. Bahkan di kantor pusat mungkin banyak karyawan mempunyai lebih dari 3 perangkat informasi yang bisa dibuat online. Minimal ada Laptop, Komputer LAN, dan Telepon seluler ada di atas meja.

Kebayoran Baru, 24 Juli 2009.

Makmur AS

DOWN TO EARTH

Jujur bagi rakyat adalah harapan banyak orang dan selalu dinanti-nantikan. Sangatlah gampang menebak suatu keniscayaan dari janji seorang pemimpin yang seakan-akan “membumi” dan masuk di hati sanubari rakyat. Kecurigaan akan muncul di benak orang disaat kejujuran muncul di awal dengan hanya ungkapan saja, namun berbeda dalam tindakan. Sangat mudah sesorang untuk berekspresi pada yang terbuka dan jujur (down to earth), semua terlayani dengan baik dan benar. Tidak ada yang ditutupi demi kebaikan, tetapi kebenaran menjadi pendamping kebaikan.

Banyak orang berpendapat kejujuran bagi politikus adalah suatu kemustahilan. Fatsun politik berlaku bila pihak-pihak yang terlibat dalam suatu “bisnis” politik memperoleh “deal” yang sepadan. Lebih sedikit dan kurang sedikit sangat ditolerir dalam “bisnis” politik. Bisnis di sini diartikan sebagai aktifitas atau darah dalam politik. Mengapa demikian ? Karena “bisnis” politik sangat hidup. “Bisnis” politik sangat mempengaruhi berbagai “deal-deal” lainnya. Bahkan “the real business” pun bisa macet atau langgeng karenanya.

Keterbukaan dalam hal apapun dalam kebanyakan kultur di Indonesia sangat sulit di ungkapkan; ada hal-hal yang “tidak terbuka” di samarkan dengan harapan pasti dimengerti dan nanti dianggap tidak menjadi “unpolite” atau tidak etis jika akan menyampaikan maksud sesungguhnya. Ketidak terbukaan ini membawa suatu kesan yang tidak tegas atau konsisten, dan bisa menjadi milik seorang yang sangat kawakan dalam mengendalikan sesuatu. Sangat banyak pikiran dan tenaga terkuras untuk ini, dan membuat “hitam putih” menjadi “abu-abu”. Putih pun tidak, hitam pun tidak. Ternyata sikap ini sangat tercermin dalam berbagai norma dan aturan yang dimunculkan dalam hampir semua aturan di negeri ini. Tidak sedikit orang yang awam dalam hukum, cukup bingung dengan kondisi tersebut, bahkan kadang terkesima. Komentarnya sering menyebut, sebenarnya belum banyak yang berubah. Namun di sisi lain para ahli hukum menyebut sudah banyak yang berubah, meski belum merata.

Pertanyaannya apakah semua pemimpin sudah berjalan menapaki bumi ini dengan mantap dan percaya diri dan sudah melihat rakyat dengan mata terbuka. Sudahkah bertanya apakah yang akan kami perbuat untukmu bangsaku ? Mari kita duduk bersama dan berbuat sesuatu untuk negeri ini. [dari Makmur untuk semua]

 

BROWN NOSE

Brown Nose” atau pun “Polished The Apple” adalah dua ungkapan yang sama yang pengertiannya yaitu “Menjilat atasan” atau “Menyenangkan hati Boss”. Dua istilah ini sangat berdekatan untuk diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan di kantor maupun di organisasi apapun bahkan di dalam keluarga. Pengertiannya bisa bermakna ganda. Positif dan negatif, tergantung dari cara pandang kita melihatnya. Pengertian pertama dari sisi kuantitas para penjilat yaitu : individual atau kelompok. Pengertian kedua dari sisi bentuk jilatan dari para penjilat, yaitu : materi dan non materi.

Jika dilihat dari sisi kuantitas para penjilat, maka jika keberadaan penjilat adalah individual, sering dilakukan, tak kenal waktu, maka kesan negatif pasti menjadi lebih besar. Ini benar-benar pekerjaan “Polished the Apple”, meski tidak perlu, atau sudah usang, jilatan itu terus berjalan. Namun, bila yang dijilat tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tidak benar, maka “Bos” biasanya tidak terpengaruh. Sebaliknya bila “Bos” memang senangnya di jilat, si “Bos” menjadi lupa diri. Disinilah bahaya yang ada di pelihara, menjadikan suatu organisasi atau bidang pekerjaan tidak nyaman di lingkungannya, banyak kemunafikan dan kebohongan terjadi.

Kemudian jika penjilatan dilakukan secara bersama-sama, kemungkinannya adalah penjilatan mofel ini tidak sering dilakukan. Sifatnya periodik, biasanya untuk hari-hari khusus saja seperti hari Ulang tahun, perkawinan, dan lain sebagainya. Penjilatan ini mungkin dilakukan untuk tujuan tertentu saja, yaitu menyenangkan hati “Bos”. Kesan ini biasanya positif, karena tujuannya kebersamaan. Lain lagi jika jilatan tersebut berbentuk materi seperti uang, hadiah, dan kemudahan lain yang disodorkan, biasanya di belakang hari ada saja jebakan yang terjadi. Kalau yang diberikan non materi (tidak termasuk hadiah “wanita”), seperti jalan bersama, makan bersama dan kebersamaan lainnya biasanya tidak terlalu punya kesan negatif,  tetapi dilihat bahwa ada kebersamaan dan kekompakan yang tercipta.

Namun kedua-duanya dapat mempunyai akibat buruk atau jelek, misalnya jika tujuan ini dilakukan untuk menjatuhkan “Bos”, maka “Bos” yang dijilat harus ekstra hati-hati. Kedepannya “Bos” bisa lupa diri dan anehnya bisa mengidap penyakit “Post Power Syndrom”.  Karena terlalu sering dipuji, disanjung, dilayani dan lupa diri, bahkan waktunya sudah lewat pun tidak disadari. Nah …….

Pernahkah anda melakukan hal ini, atau sudah berapa kali anda melakukannya ?

Atau apakah anda melakukannya hari ini ? Atau anda melihatnya hari ini….. amati dan renungkanlah….

Kebayoran, 11 Juni 2009